Hati-hati Salah Asuh Pada Karyawan Anda
Pada kesempatan ini kami menerima sumbangan tulisan dari Bapak Jo Hariffin Sunarja seorang praktisi dan pengamat SDM.
Judul ini ditujukan bagi mereka yang memiliki posisi sebagai pimpinan. Pimpinan di suatu perusahaan bisa sebagai Kepala Regu, Kepala Bagian, Penyelia (Supervisor), Manajer sampai tingkat Direktur. Langsung atau tidak, setiap hari para pimpinan selalu berinteraksi dengan para bawahannya. Dalam proses interaksi ini, disadari atau tidak, akan membentuk suatu relasi. Kalau diibaratkan antara pimpinan dan bawahan ini sebagai orang tua dan anak, maka relasi yang tercipta adalah adanya semacam “pola asuh” atau didikan yang diberikan orang tua kepada anak. Begitu pula pimpinan dengan bawahannya/anak buah.
Pengertian pola asuh tidak akan ditemui di kajian manajemen. Istilah ini kita dapati bila kita mendalami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kesejahteraan keluarga atau kajian psikologi perkembangan. Dalam pola asuh, termaktub unsur “pendidikan” yang diberikan orang yang lebih tua, lebih tinggi kedudukannya, kepada mereka yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya. Hal ini bisa kita lihat dari batasan pendidikan itu sendiri secara umum. Mengutip dari Dictionary of Education bahwa pendidikan diartikan sebagai proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat dimana ia hidup.
Dalam proses pengembangan kemampuan atau bentuk tingkah laku, yang pertama diperoleh tentu dari lingkungan paling dekat yaitu di rumah. Namun setelah seseorang bekerja, maka lingkungan yang cukup dominan adalah lingkungan kerja. Di lingkungan kerja ini peran Pimpinan akan sangat besar pengaruhnya terhadap pola tingkah laku para bawahannya (anak buahnya).
Seperti pepatah mengatakan bahwa “buah tidak akan jauh dari pohonnya” atau “Like Father Like Son”. Semua pepatah itu menggambarkan betapa faktor didikan atau pola asuh pimpinan itu demikian melekat pada setiap anak buahnya dalam berperilaku kerja. Mungkin sering kita jumpai ada karyawan yang sangat cekatan dan antusias dalam melayani customer atau sesama karyawan. Tapi sebaliknya, ada karyawan yang begitu egois dalam bekerja. Prinsipnya bahwa pekerjaannya harus selesai, terserah bagian lain mengalami kesulitan atau tidak. Perilaku-perilaku kerja semacam itu memang bisa “bawaan” dari lingkungan orang tua di rumah, atau didikan pimpinan di tempat kerja yang sudah menjadi bagian dari pola pikirnya.
Salah satu cara bawahan menerima didikan pimpinan adalah belajar dari pengamatan. Setiap saat, para bawahan disadari atau tidak akan mengamati perilaku pemimpinnya. Perilaku yang memang pas dan “nyaman” untuk dia, maka perilaku itu yang akan ditampilkan. Jadi ada semacam proses pembentukan pola pikir lewat pengamatan tadi.
Proses lain adalah pimpinan dijadikan atau menjadikan dirinya sebagai figur atau tokoh panutan. Tokoh panutan yang paling berpengaruh bagi seseorang adalah orang tua. Namun bisa jadi, setelah dewasa dan bekerja, tokoh panutan bergeser dari orang tua menjadi atasan atau pimpinan kita di tempat kerja. Proses peniruan perilaku akan sangat membekas dan biasanya apa yang dilakukan tokoh panutannya dianggap benar. Sehingga kalau sudah masing-masing karyawan memiliki tokoh panutan, maka masing-masing pimpinannya dianggap orang yang paling benar. Lebih parahnya lagi, dia sendiri menganggap dirinya paling benar karena perilakunya sama. Ini cara seorang mengidolakan tokoh panutannya secara sempit.
Selain berperan sebagai tokoh panutan, pimpinan terkadang berperan sebagai “orang tua”. Disini pemimpin memaksakan pandangan hidupnya kepada para bawahan. Pada pelaksanaannya kerap kata-kata pimpinan tersebut akan keluar seperti : “seharusnya”, “perlu”, “wajib”, “selalu”, “tidak pernah”, dan sebagainya. Dengan demikian bawahan yang menerima didikan seperti ini, akan sulit memahami orang lain. Doktrin yang diterimanya akan selalu dipegang teguh tanpa memiliki fleksibilitas tingkah laku sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.
DAMPAK PADA KERJASAMA TIM
Kerjasama tim di dalam perusahaan sering didengungkan sebagai salah satu cara untuk mencapai keberhasilan tujuan perusahaan. Dalam prosesnya kerjasama tim ini banyak menemui hambatan, terutama dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Betapa tidak menjadi masalah, jika karyawan yang terlibat didalamnya memiliki berbagai tipe kepribadian. Memang setiap orang itu unik adanya. Jika tipe kerpribadian ini diperoleh dari hasil didikan masing-masing pimpinan yang saling berbeda pola, maka tim ini akan sukar berjalan solid.
Kerjasama tim membutuhkan orang-orang yang siap menerima dan memahami kepribadian orang lain, termasuk didalamnya pola tingkah laku kerja masing-masing orang. Kondisi suatu perusahaan dimana ada banyak pimpinan yang diidolakan dan masing-masing anak buah berpegang pada didikan yang diterimanya, maka akan tercipta beberapa kubu, yang pada akhirnya sangat rentan timbul konflik.
Karena itu pimpinan harus memiliki satu visi dan misi yang sama sehingga para bawahan tidak terombang ambing. Siapa sebenarnya yang akan diikuti. Karena itu sebagai pimpinan perlu hati-hati dalam mendidik bawahan, karena salah-salah kita akan membentuk para karyawan yang “salah asuh”.
Terisnpirasi suatu puisi yang berjudul “Love Choices”, penulis mengadopsinya sebagai bahan renungan bagi tiap pimpinan dalam mendidik para bawahannya atau anak buah.
Karyawan yang bekerja dengan ejekan/makian akan belajar menjadi penakut;
Karyawan yang bekerja dengan kritikan pedas akan belajar menyalahkan orang lain;
Karyawan yang bekerja dalam kecurigaan akan belajar menjadi pembohong;
Karyawan yang bekerja dalam permusuhan akan belajar melawan;
Karyawan yang bekerja dalam kebebasan akan belajar hidup tidak bertanggung jawab;
Tapi …..
Karyawan yang bekerja dalam dorongan semangat akan belajar percaya diri;
Karyawan yang bekerja dalam kebenaran/kejujuran akan belajar keadilan;
Karyawan yang bekerja dengan pujian akan belajar menghargai;
Karyawan yang bekerja dengan berbagi akan belajar menjadi bijaksana;
Karyawan yang bekerja dengan pengetahuan akan belajar hikmat;
Karyawan yang bekerja dalam kesabaran akan belajar toleran;
Karyawan yang bekerja dalam kebahagiaan akan menemukan kasih dan keindahan.
*) Penulis adalah praktisi SDM di sebuah perusahaan swasta.
Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.


Comments
No comments yet.
Leave a comment