FLEKSIBILITAS MANAJEMEN MENGHADAPI ANCAMAN DAN PELUANG
Oct 13th, 2008 oleh Henky Njoto Widjaja
Dewasa ini banyak sekali perusahaan mengalami suatu sukses yang gemilang. Salah satu faktor yang pantas disebut sebagai penyebabnya adalah karena perusahaan itu dapat bertindak fleksibel dalam menghadapi ancaman dan peluang yang terjadi.
Mengapa beberapa perusahaan tidak sanggup menanggapi serangan saingan atau tidak dapat memanfaatkan apa yang tampak sebagai peluang pasar ?. sebagian besar dari jawaban ini adalah bahwa mereka tidak melakukan manajemen yang menganut prinsip fleksibilitas. Mengelola fleksibilitas perusahaan adalah suatu bentuk aktif menghadapi resiko manajemen. Hal ini juga berarti suatu tanggapan aktif terhadap ketidak pastian yang menunjukan posisi atau kondisi perusahaan untuk menanggapi perubahan.
Ada tiga sumber fleksibilitas, yaitu fleksibilitas strategis yang dapat dilihat sebagai cara menunda komitmen terhadap sistem bisnis atau segmentasi pasar yang menyebar ( Cluster ). Sementara itu positioning perusahaan dapat memanfaatkan secara tepat keadaan lingkungannya, dimana kunci ketidak pastian ini dihapuskan. Hal ini juga berarti bahwa kita harus absen dari bisnis. Akan tetapi ia lebih berarti apabila membiarkan beberapa opsi/pilihan tetap terbuka. Sebagai contoh, sebuah perusahaan dapat memilih kegiatan R & D yang majemuk untuk produk yang sama. Kemudian kita perlu menunda keterlibatan kita dalam tekhnologi sampai dibuat suatu pengetahuan tentang superioritas yang bersaing.
Fleksibilitas organisasi lebih menekankan soal waktu. Sedangkan waktu sangat dibutuhkan untuk menanggapi perubahan lingkungan dan merubah struktur, sistem dan kemampuan, serta variabel organisasi perusahaan. Banyak perusahaan memperbaiki daya tanggapnya dengan melakukan desentralisasi atau resentralisasi otoritas pembuatan keputusan. Kemampuan organisasi untuk merubah struktur dan sistem asosiasinya seringkali terhambat oleh sistem dari hasil tradisi mereka sendiri. Perkiraan keperluan yang mungkin berubah dalam batas masa mendatang ialah kemampuan perusahaan untuk merubah.
Fleksibilitas yang operasional mempunyai kemampuan untuk mempunyai kemampuan untuk menanggapi perubahan masukan ( harga dan kebersediaan ), permintaan ( harga dan volume ), regulasi dan persaingan. Sebagai misal, fleksibilitas – persediaan / bahan baku dan keluaran merupakan kunci keuntungan dalam memanfaatkan banyak fasilitas pengolahan/industri.
Salah satu bentuk ekstrim fleksibilitas ditunjukan oleh sebuah contoh bilamana seorang pembuat ‘Vas Glas’ menetapkan pabriknya diatas titik persimpangan permintaan dan pengolahan produk. Fleksibilitas lokasional yang realitas seringkali dicapai oleh strategi produksi beberapa produk ( multiplant ) yang lebih mahal daripada satu pabrik ( monoplant ) dengan skala besar tetapi mempunyai fleksibilitas yang besar terhadap goncangan serikat pekerja, fluktuasi mata uang asing dan kehancuran pabrik.
Skala pabrik pengolahan mempunyai variasi yang kritis dalam fleksibilitas manajemen. Skala ekonomi hampir selalu bertentangan dengan kepentingan fleksibilitas. Karena langkah perubahan meningkat dengan pesat dalam ekonomi / industri, sehingga permintaan untuk fleksibilitas menjadi makin tinggi. Tambahan pula akibat difusi tekhnologi dan peningkatan ongkos bahan baku dalam industri padat modal, skala ekonomi menjadi kurang berhasil.
Pilihan yang optimum
Bagaimana manajemen menetapkan tingkat optimum dari suatu fleksibilitas? Masalahnya adalah apakah kita menetapkan pilihan terhadap biaya fleksibilitas jangka pendek atau nilai ketidakpastian dalam jangka panjang. Beberapa peluang dan ancaman perlu dipertimbangkan. Seandainya ada fleksibilitas posisi tertentu yang membiarkan atau mengizinkan partisipasi dalam potensi pasar yang sangat menarik di masa mendatang, nilai hasil dapat menjadi pilihan. Kebutuhan fleksibilitas ditentukan oleh biaya kekakuan ( infleksibilitas ). Potensi perubahan, dan tingkat optimum. Hal ini sangat tergantung pada biaya mempertahankan fleksibilitas dan dampak terhadap penampilan perusahaan.
Salah satu dimensi kritis dalam mengelola fleksibilitas adalah waktu yang tepat untuk terlibat. Hakikat fleksibilitas adalah menunda keterlibatan terhadap beberapa persoalan dan adalah menunda keterlibatan terhadap beberapa persoalan dan meningkatkan ketetapan waktu pada tindakan yang lain. Banyak kasus ketepatan waktu menjadi gagal, sebagai akibat hasil yang prematur dari dorongan untuk mendapat keuntungan yang cepat. Hasil yang prematur dan tentatif tentu saja tidak diharapkan. Sedikitnya tidak membawa keuntungan yang mantap dalam persaingan. Khususnya bilamana mereka melakukan suatu tindakan tanpa data yang penting dan pengetahuan yang dalam.
Dasar Pengetahuan
Dewasa ini pengetahuan menjadi sangat penting dalam menetukan fleksibilitas. Suatu pengetahuan dasar dapat mengurangi tingkat fleksibilitas yang diperlukan. Mengingat biaya untuk mempertahankan fleksibilitas yang membengkak, suatu perusahaan dapat memilih beberapa alternatif. Di antaranya adalah pengendalian biaya untuk mengetahui pengetahuan dasar yang berlaku ini secara lebih baik. Untuk melakukan hal ini, kita perlu menganalisa dengan teliti sumber ketidak pastian di masa mendatang. Justru penentuan aspek dari pengetahuan dasar yang berlaku ini dapat merubah tingkat ketidak pastian itu.
Sebuah perusahaan mungkin saja lebih suka memilih kebutuhan untuk mempertahankan fleksibilitas strategis yang lebih tinggi untuk mengatasi kekakuan perusahaan. Sebagai misal, sebuah perusahaan multinasional dari Belanda tidak dapat mencapai tingkat fleksibilitas perusahaan yang diinginkan dengan cepat karena perlu waktu untuk merubah budaya, kemampuan staf, dan sistem yang berlaku. Karena selama periode infleksibilitas strategis ini sangat tinggi, tingkat kesiapan tekhnologi menjadi rendah. Pertimbangan ini juga menunjukan kepentingan untuk menguji semua kebutuhan terhadap fleksibilitas. Seandainya perusahaan menanamkan modal yang besar dalam penelitian dan pengembangan ( R & D ) selama masa transisi menuju perusahaan yang lebih luwes, produktifitasnya lebih rendah daripada perusahaan lain dengan fleksibilitas yang lebih tinggi.
Dimensi lain dalam manajemen fleksibilitas adalah keseimbangan antar alternatif produktif dan aktif. Sebagai misal, adalah pemanfaatan hibah, asuransi dan keseimbangan porto folio. Keduanya memang dibutuhkan. Akan tetapi alternatif praktis seringkali lebih unggul karena mereka mempunyai nilai penukaran lebih baik dan mencerminkan manfaat dari nilai tambah. Suatu catatan yang lebih jelas, dimana keputusan dikelola dengan baik dan bagaimana harus dilakukan koreksi terhadap kesalahan. Pilihan praktis diperlukan untuk merebut peluang yang baru.
Piranti Analisa
Banyak pemikiran dilakukan untuk mengetahui tentang perangkat analisa yang dapat digunakan untuk meliput bidang infleksibilitas. Yaitu matriks diskonuitas, analisa vulnerabilitas, analisa bebas-salah, asumsi testing, dan pembuatan skenario. Beberapa skenario sering kali dapat membantu, tetapi resep pendekatannya sulit ditemukan.
Manajemen puncak harus mempertanyakan fleksibilitas setiap saat dalam melakukan keputusan penting dan komitmen. Pertanyaan ini meliputi hal hal sebagai berikut :
a). Apakah diskontinuitas dapat membuat investasi ini menjadi rawan dalam arti ekonomis dan kompetitif? Apakah diskontinuitas ekonomi ini merupakan persoalan manajemen.
b). Bagaimana menambah atau mengurangi komitmen dan infleksibilitas perusahaan yang ada?
c). Apakah harga yang harus dibayar untuk fleksibilitas ini sesuai dengan diskonuitas yang dibayangkan? Apakah ada alternatif yang lebih murah.
d). Apakah kita harus mendorong kemampuan perusahaan untuk mewujudkan manfaat dari pilihan yang luwes atau fungsi ini tidak dapat ditingkatkan secara organisatoris?
e). Bagaimana kita menduduki posisi yang baik sehingga dapat melakukan koreksi terhadap kesalahan?
f). Dalam kondisi mana kita tidak melakukan pilihan yang di rekomendasikan?
g). Bagaimana sistem pengenalan dan penelusuran dapat mengetahui bahwa diskonuitas dapat dikelola oleh keunggulan kompetitif yang tersembunyi.
Pertanyaan ini mendorong perusahaan untuk memilih alternatif biaya dan nilai. Fleksibilitas harus menjadi kriteria yang kritis untuk pilihan yang strategis.







