Mengapa Produk Anda Gagal?
Feb 4th, 2009 oleh Henky Njoto Widjaja
Para pakar pemasaran mengatakan bahwa unsur terpenting dalam paduan pemasaran (marketing mix) adalah produk. Karenanya, sukses atau gagalnya suatu produk / jasa itu sebagian besar bergantung kepada produk/jasa itu sendiri. Kegagalan suatu produk jarang sekali yang disebabkan oleh unsur/faktor non-produk.
Kegagalan suatu produk itu biasanya disebabkan produk yang bersangkutan tidak bisa memuaskan kebutuhan pasar. Namun demikian, toh produk yang sehat pun bisa mengalami kegagalan. Dalam hal ini, kegagalan ini disebabkan oleh adanya persaingan ,bisnis yang bersangkutan telah memasuki tahap kejenuhan, atau karena situasi dan lingkungan telah mengalami perubahan besar.
Dua Problem
Melalui penerapan strategi manajemen yang tepat, upaya “menyegarkan” kembali produk yang “loyo” bukanlah hal yang mustahil. Sudah barang tentu, upaya ini harus dimulai dengan langkah penganalisaan problem secara tepat.
Pada dasrnya , problem yang dihadapi oileh para pemasar itu dibagi dalam dua golongan besar, yaitu:
- Problem yang berkaitan dengan produk
- Problem yang berkaitan dengan pasar.
Kita akan mulai dengan problem yang berkaitan dengan produk terlebih dahulu . Problem ini meliputi beberapa faktor, antara lain:
1. Kejenuhan dalam penggunaan
Bila terjadi kelambanan dalam pertumbuhan atau kemerosotan profit, hal pertama yang perlu kita teliti adalah produk kita sendiri. Ini misalnya, bisa terjadi bila produk mulai memasuki tahap decline dalam product life cycle( daur hidup produk ).
Strategi yang dapat kita pergunakan untuk mengatasinya adalah dengan memperluas cakrawala produk, yaitu memperluas fungsi produk disamping fungsi yang telah dikenal. Proses ini membutuhkan dua tindakan pertimbangan penting:
a. Berkonsentrasi pada fungsi tertentu produk yang bias memuaskan kebutuhan pasar.
b. Menganggap produk sebagai suatu komponen dalam sebuah sistem.
Disamping itu, dapat pula digunakan strategi lain, yaitu usaha menggunakan cara penggunaan /aplikasi baru untuk produk yang bersangkutan.Cara ini biasanya membutuhkan dua tahapan:
a. Mengidentifikasi kebutuhan fungsional(Functional needs) baru yang bisa dipenuhi oleh produk disamping kebutuhan fungsional yang dirancang semula.
b. Mencari keinginan non-fungsional(non-functional wants) yang bisa dikaitkan dengan produk.
Motivasi untuk functional needs itu sifatnya mengacu pada segi kepraktisan. Sedangkan motivasi untuk non-functional wants adalah mengacu pada segi sosio-psikologis ( status, karakteristik kepribadian, rasa memiliki, perasaan senang/puas).
Para ahli menyatakan bahwa functional needs suatu pasar itu dapat menerbitkan penggunaan baru dari produk yang bersangkutan. Dan bisa memungkinkan terbukanya peluang lain untuk meraih keberhasilan. Oleh karena itu, seseorang bisa mengantisipasi kejenuhan produk dengan mencari situasi baru lewat waktu, sistem distribusi atau positioning. Strategi ini adalah strategi mencari Functional Wants baru yang diharapkan bisa memuaskan pasar. Dengan demikian,produk menjadi “segar” kembali.
Misalnya, American Express berhasil meningkatkan pangsa pasar dalam bisnis kartu kredit lewat produknya ( untuk memenuhi kebutuhan) : Green Card dan Gold Card. Kedua kartu ini bisa memuaskan functional needs yang sama. Adanya perbedaan warna,hak/fasilitas tambahan untuk pemegang Gold Card, maka karti berwarna emas ini dapat memiliki daya tarik tambahan: non-functional wants
Bila konsumen lebih bisa dimotivasi lewat segi kepraktisan ( aspek functional), maka segi inilah yang harus ditekankan untuk mencari pengguna baru. Namun bila functional needs itu tidak terlalu menonjol atau produknya tidak kompetitif maka nilai-nilai non-functional seyogyanya dicari dan dikembangkan berdasarkan manfaat yang relevan.
2. Positioning yang keliru
Suatu produk bermutu tinggi diposisikan secara keliru, dapat mengalami kegagalan. Cara paling tepat untuk memperbaikinya adalah dengan melakukan repositioning. Strategi Repositoining dapat menimbulkan pergeseran atau perubahan menuju suatu penggunaan atau pasar baru. Hal ini mengandung pengertian bahwa perusahaan dan konsumen perlu memandang produk dalam cara lain yang berbeda. Dengan cara demikian, produk yang bersangkutan memperoleh persepsi yang berbeda dan memiliki serangkaian non-functional wants. Terkadang sedikit pergeseran citra atau persepsi penggunaan dapat menghasilkan perubahan besar dalam fungsi produk serta pasar.
3. Nilai end-user yang rendah
Bila kesalahan dalam positioning itu mungkin lebih melibatkan masalah psikologis, maka problem yang satu ini lebih berorientasi pada masalah functional.Dlaam masalah ini konsumen akhir mengenal seluk-beluk manfaat produk, atau paling sedikit,tidak mampu membeli produk tersebut dalam jumlah yang memadai. Karenanya perusahaan perlu menekankan usaha lewat perantara yang menjual kembali(intermediary), ketimbang memotivasi konsumen untuk membeli produk lewat upaya periklanan sistem distribusi.
Perusahaan melakukan strategi push terhadap pihak intermediary yang memiliki posisi lebih menguntungkan. Dengan demikian mereka yang memiliki kekuatan pull yang lebih kuat terhadap end-user.
Kini kita beralih pada problem kedua yaitu problem yang berkaitan dengan pasar. Problem ini antara lain meliputi:
1. Perubahan kebutuhan pasar
Problem merosotnya pertumbuhan atau keuntungan tidak hanya bisa terjadi pada suatu merek produk, tetapi juga bisa melanda industri produk yang bersangkutan secara keseluruhan. Sesuai dengan berjalannya waktu, banyak perubahan dinamis yang terjadi. Keputusan positioning yang tepat di masa lalu ternyata bisa tidak sesuai lagi dimasa sekarang. Kebutuhan pasar saat ini berbeda dengan kebutuhan beberapa tahun lalu.
Strategi untuk menghadapi hal ini adalah dengan melakukan repotioning secara tepat. Atau dengan cara melakukan perubahan pasar. Bila upaya memilih citra atau pasar baru ini mengalami kegagalan, masih bisa diupayakan cara penggunakan baru terhadap produk secara tepat.
2. Pasar yang jenuh
Sebagaimana dengan produk, industri dan pasar ini juga memiliki daur hidup. Bila pasar telah sampai pada tahap jenuh, maka situasi akan berubah menjadi lebih kompetitif. Salah satu strategi untuk mengatasinya adalah engan memasuki segmen yang berbeda untuk kategori produk yang berbeda pula. Sudah barang tentu, hal ini harus dilakukan sebelum produk menujukan tanda-tanda “loyo”.
.Strategi lainnya dapat berupa upaya mempertahankan loyalitas dari para heavy user . Atau , mengusahakan konsumen untuk mengalihkan loyalitasnya pada produk Anda. Sebagai pengusaha, Anda tidak perlu menunda upaya ini sampai terlihat tanda-tanda terjadinya kesulitan.
3. Kelesuan pasar
Problem ini merupakan problem yang memiliki pengaruh paling hebat dari seantero dunia. Pasar tampak payah meskipun produknya memiliki kualitas baik, karena konsumen tidak memiliki motivasi untuk membeli. Masalahnya bukanlah kekurangan dana/uang, tetapi tidak adanya motivasi.
Cara mengatasinya : Melakukan penjualan lewat pihak intermediary.Terlepas dari polemic “ diciptakan “ atau “dicari”, faktor kesempatan memang tergolong langka. Kesempatan mencari kerja kini begitu ketat. Kesempatan promosi juga bukan anugerah Tuhan, namun harus disertai ketekunan dan kemauan meningkatkan diri. Beberapa orang menyebutnya sebagai ambisi. Beberapa orang keliri menafsirkan ambisi dengan memperbudak diri sendiri. Kebahagiaan ada didalam diri Anda sendiri. Anda baru bisa membahagiakan orang lain kalau Anda dulu sudah bahagia. Kalau Anda bekerja dan sekarang menjadi budak, maka Anda pasti tidak bahagia. Berwiraswasta atau bekerja makan gaji ada seninya sendiri-sendiri, ada resikonya masing-masing, ada pahit getir dan kepuasannya sendiri. Asal Anda tidak merasa dan mengasosiasikan ‘makan gaji’ sama dengan menjadi ‘budak’. Memang setia tidak berarti menjadi ‘budak’, Anda kan punya hak untuk bicara.
Anda harus setia
Seorang supervisor adalah seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus meneladani dengan kesetiaannya untuk menuntut para bawahannya agar setia. Untuk bisa setia diperlukan beberapa persyaratan kualitatif.
o Memberi semangat pada bawahan anda,bukan Anda yang mengeluh kepada dia.
o Beremosi stabil, dapat dipercaya,dapat jadi tempat bertanya.
o Mempengaruhi rekan-rekan melalui sifat menyenangkan , riang,jujur, sabar, dan penuh semangat.
o Berani bertanggung jawab dan tidak melempar tanggung jawab atau menyalahkan/menjelekkan orang lain.
o Menekan biaya/ongkos.
o Pandai berkomunikasi lisan dan tertulis.
o Berani menghadapi masalah, kreatif dalam memecahkannya.
o Bersedia membagi pengetahuan dan pengalaman kepada para bawahannya, termasuk mendelegasikan pekerjaannya.
o Berani menegur tetapi juga pintar memuji yang bukan basa-basi.
o Menjaga keberhasilan lingkungan kerjanya, termasuk inventaris yang dipercayakan kepadanya.
Diantaranya adalah terjaminnya kualitas barang, janji yang tepat, pesanan yang sesuai dengan order, dan pelayanan yang baik. Dalam bisnis sudah sepantasnya kalau mereka yang terlibat didalamnya memikirkan hubungan yang bersifat jangka panjang. Sehingga tingkah laku orang-orang bisnis sesuai dengan norma dan etika-etika yang akan mendukung kelestarian kepercayaan.
Bisnis memang seringkali menimbulkan konflik kepentingan. Etika bisnis bertujuan untuk menghindarkan konflik kepentingan pribadi dan perusahaan. Oleh karena itu, batas-batas kepentingan itu harus jelas. Sebaiknya dalam sebuah perusahaan ada “ rule of the game ”, yaitu suatu aturan permainan yang harud dipatuhi oleh setiap karyawan. Sebagai contoh, karyawan bagian pembelian tidak dibenarkan membeli barang yang memberi peluang untuk memberikan keuntungan pribadi. Atau bagian penjualan tidak diijinkan memberikan potongan harga tidak adil.
Kepentingan
Secara umum ada beberapa kemungkinan untuk memperoleh modal yang dapat digunakan untuk membangun suatu kerajaan bisnis. Modal yang diperoleh dari harta warisan. Modal yang didapat karena memenangkan lotre. Keduanya berdasarkan nasib baik.
Kemudian ada lagi modal yang berhasil dikumpulkan karena bekerja keras dan menabung. Atau dapat juga modal yang diperoleh karena melakukan penelitian dan menemukan sesuatu yang bisa didaftarkan patennya. Ada kemungkinan yang lain. Yaitu terjadi komersialisasi birokrasi. Dimana hal ini merupakan pertemuan kepentingan antara kekuatan politik dan kekuatan ekonomi.
Hal ini juga dapat menimbulkan sumber permodalan. Gejalanya adalah penguasa yang menjadi pengusaha. Atau pengusaha yang sangat bergantung pada penguasa. Komersialisasi birokrasi seringkali menimbulkan kerancuan dalam etika bisnis. Juga terhadap hokum yang berlaku dalam bisnis. Karena disamping pertemuan kepentingan, seringkali juga mennimbulkan konflik kepentingan.
Sehingga mekanisme pasar tidak sepenuhnya berjalan atas kekuatan ekonomi tetapi ada intervensi politik dalam bisnis. Dan etika politik juga dimasukkan sebagai pedoman. Akibatnya adalah keruwetan dalam dunia bisnis. Barangkali tindakan non etis itu dilakukan oleh orang yang sebetulnya kurang memahami kodrat bisnis dan ekonomi yang berdasarkan pemikiran jangka panjang.







