Pandai Tapi Gagal, Mengapa?
May 12th, 2009 oleh Henky Njoto Widjaja
Pada suatu saat, Anda bisa saja mengalami kegagalan dalam perjalanan karir. Namun dari kegagalan tersebut, Anda bisa belajar memetik hikmatnya. Setiap orang memiliki peluang untuk mengubah keadaan yang tidak menguntungkan. Anda harus berusaha menghindari melakukan kesalahan yang sama.
Penyebab Kegagalan
Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan yang dilakukan terhadap 200 orang yang berhasil survive dalam mengatasi kegagalan karir, ternyata ada beberapa penyebab utama. Penyebab itu antara lain adalah:
1. Kurangnya keterampilan sosial
Orang-orang yang yang gagal, menyatakan dirinya sebagai korban, “office politics” namun sebenarnya, “office politics” yang dikatakan itu tidak lebih dari interaksi antar-manusia belaka. Orang yang mengalami kesulitan dalam mengahdapi “office politics”, maka ia juga akan mengalami kesulitan dalam berurusan dengan orang lain.
Untuk sementara, Anda mungkin saja bertindak brilian secara perseorangan. Tapi sebagian besar perjalanan karir itu melibatkan banyak orang. Seseorang bisa saja memiliki kepandaian akademik yang menonjol tapi kurang memiliki kepandaian social, antara lain meliputi : kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik, bersifat peka terhadap orang lain, memberi dan menerima kritik dan hati lapang.
Orang yang memiliki keterampilan sosial akan mengakui kesalahan yang mereka lakukan, bertanggung jawab atas kesalahan tersebut dan sanggup melakukan tindak lanjut. Mereka tahu bagaimana cara menciptakan dukungan terhadap tim kerja.
Disamping itu , keterampilan sosial memungkinlan Anda tetap bisa melanjutkan tugas dengan baik setelah terjadi kesalahan. Berkat pekerjaan dalam bergaul, para eksekutif disukai oleh orang lain. Bila mereka ini menjumapai kesulitan maka para pendukungnya biasanya berusaha untuk memberikan bantuan.
Orang yang kurang memiliki kemampuan bersosialisasi akan menghadapi kesulitan dalam menerima kritik. Ketika dihadapkan pada kesulitan, mereka akan menyertakan ego dan emosinya. Mereka ini mungkin akan mengelakkan tangung jawab, menjadi marah dan lain-lain.
Keterampilan itu merupakan keterampilan yang bisa diperoleh. Sebagaimana halnya dengan tata karma dan sopan santun, keterampilan sosial itu bisa dipelajari dan dilatih.
2. Penempatan yang keliru
Anda mungkin sebenarnya tidak mengalami kegagalan sama sekali. Tetapi mengapa perjalanan karir hanya begitu-begitu saja? Dalam hal ini , anda mungkin mengalami kesalahan penempatan. Kesuksesan itu memerlukan perpaduan yang sesuai antara kemampuan, minat, kepribadian, gaya, tata nilai yang anda miliki dan pekerjaan anda.
David Brown adalah seorang produser film yang sukses di Amerika, pernah mengalami tiga kali pemecatan sebelum memutuskan bahwa kehidupan perusahaan itu bukan merupakan dunia karirnya.
Di Hollywood ia tumbuh sebagai orang nomor 2 pada Twentieth Century Fox. Kemudian ia merekomendasikan pembuatan film Cleopatra yang gagal secara komersial. Lalu ia di-PHK.
Di New York ia menjabat sebagai Editorial Vice President pada New American Library. Tapi kemudian ia berselisih dengan karyawan lainnya. Ia kembali di – PHK.
Berikutnya ia kembali ke Twentieth Century Fox dan menjadi Eselon atas disana selama 6 tahun. Namun ternyata dewan pimpinan memutuskan bahwa beberapa film yang direkomendasikan Brown itu tidak disukai. Sekali lagi ia di-PHK. Hal serupa juga menimpa pimpinan Twentieth Century Fox, Ricard D. Zanuck.
Selanjutnya Brown mulai meneliti perilaku kerjanya.. caranya menjalankan perusahaan – yang berorientasi pada risiko, berani bergerak berdasarkan insting – lebih merupakan gaya seorang pemilik perusahaan ketimbang karyawan. Ia tidak menyukai mentalitas dan manajemen peruhaan.
Analisis kesalahan ini akhirnya mendorong Brown dan Zanuck untuk memproduksi film The Sting, Jaws, The Verdict dan Cocoonyang sukses secara komersial. Ternyata Brown bukanlah seorang eksekutif yang gagal, melainkan seorang yang memiliki bakat wiraswasta yang terpendam.
Untuk beberapa pihak tertentu hal yang penting adalah keberanian dalam menghadapi resiko. Sementara untuk pihak lain, hal yang pentinmg adalah melakukan sesuatu yang bernilai.
3. Ketiadaan Komitmen
Batang-bayang kelam kegagalan selalu menghantui orang-orang yang tidak memiliki komitmen terhadap pekerjaannya. Mereka ini mencegah terjadinya kegagalan dengan cara tidak melibatkan diri secara emosional. Mereka bekerja dengan setengah hati.
Kurangnya rasa harga diri dan kepercayaan diri merupakan penyebab utama terjadinya kegagalan. Untuk mencapai sukses dalam bidang apapun, seseorang perlu melibatkan diri secara penuh dalam tugasnya dan harus memiliki keyakinan bahwa dirinya dapat melakukan tugas tersebut.
Untuk melatih dan meningkatkan rasa percaya diri , anda dapar merekam suara pembicaraan anda dan menelitinya kembali. Disamping itu, upaya melakukan wawancara secara imajiner juga sangat membantu dalam meningkatkan rasa percaya diri.
4. Kegiatan Yang Tidak Terfokus
Beberapa orang ternyata melakukan banyak hal / tugas, sehingga tidak ada satu tugas pun yang terselesaikan dengan baik. Kegiatan orang yang bersangkutan itu tak bisa terfokus dengan baik dan tak bisa dilakukan prioritas tugas.
Untuk menanggulanginya, kita perlu memahami dasar-dasar penting untuk meraih sukses antara lain : kesadaran akan keterbatasan diri, penentuan prioritas tugas dan pengorganisasian usaha.
5. Penghalang yang Tersembunyi
Seringkali, faktor usia, seks dan ras digunakan sebagai dalih terjadinya kegagalan. Padahal faktor-faktor tersebut bukan merupakan alas an yang sebenarnya. Faktor-faktor tersebut merupakan penghalang yang tersembunyi. Bila ingin meraih sukses , faktor-faktor ini mesti ditembus.
6. Nasib Buruk
Suatu ketika secara tiba-tiba ada orang baru yang asing sama sekali menjadi bos anda. Bos ini menghendaki adanya tim kerja baru yang dibentuk menurut seleranya. Anda terpaksa diberhentikan tanpa membuat kesalahan apapun.
Bila nasib buruk ini menimpa anda, janganlah menyalahkan siapapun. Dan selalu ingatlah bahwa anda selalu masih memiliki pilihan lain.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan : hal yang penting bukanlah masalah kegagalan itu sendiri, karena setiap orang – termasuk yang sukses – dapat mengalaminya . yang penting adalah hikmah dari kegagalan . mereka yang bijak adalah mereka yang mau dan bisa belajar dari kegagalan.







