Mengungkap Sukses ‘Hypermarket’ Asing
Aug 31st, 2009 oleh Henky Njoto Widjaja
Peritel terbesar dunia berasal dari Amerika Serikat yaitu Wal-Mart penjualan 2002 mencapai US$ 240 miliar direncanakan dalam lima tahun omsetnya berlipat dua sehingga membutuhkan pasar baru.
Wal-Mart telah melakukan ekspansi ke Eropa dan berhasil mengakuisisi jaringan ritel Asda dan mengincar Safeway, keduanya ritel besar di Inggris. Wal-Mart juga melakukan ekspansi ke AS dan Asia yaitu di Brazil, Cina dan Korea Selatan. Dibanding peritel AS, peritel Eropa lebih dahulu melakukan ekspansi global.
Carrefour asal Perancis salah satu globalisasi ritel memulai ekspansi ke Asia tahun 1989 yaitu masuk Taiwan. Makro dari Belanda masuk Indonesia tahun 1991.Dari Belanda selain Makro masuk juga Ahold yang Indonesia menyandang nama Tops dan dari Belgia datang Belhaize yang memiliki jaringan supermarket Super Indo. Dari Jerman Metro dan Tangelman.Kelebihan yang dimiliki peritail asing dalam hal sistem teknologi, manajer lebih profesional dan permodalannya yang sangat kuat.Walau demikian gerak langkah mereka tidak selalu menuai kesuksesan, Ekspansi mereka kebeberapa negara adakalanya merugi. Wal-Mart mengalami kegagalan di Indonesia karena konsep ritel yang mereka tawarkan kurang cocok dengan budaya Indonesia. Carrefour pernah gagal di Hongkong, Ahold gagal di Singapura dan Jepang.
Loyalitas konsumen
Kesuksesan hypermarket asing tidak terlepas dari perubahan dramatis dari demografi konsumen, ekspektasi, kebutuhan dan keperluan konsumen.
Sebelumnya peritel menganut segmen tunggal konsumen inti namun sekarang segmen tersebut semakin beragam. Hal ini dikarenakan menuanya generasi baby boomers yang menjadi pilar segmen tunggal dalam industri ritel pada 1970 – 1980 an.
Dinegara mereka segmentasi pasarnya adalah golongan masyarakat menengah kebawah, sementara di Indonesia untuk menengah ke atas. Hal lain yang perlu dicermati untuk menarik konsumen caranya memberikan harga lebih murah dibanding pengecer lain. Untuk itu ada beberapa cara yang mereka tempuh :
a. Hampir sebagian besar barang diperoleh langsung dari produsen sehingga bisa meminimalkan harga belinya. Pemasok juga berkepentingan dengan peritel besar ini karena bisa menjadi trend center bagi peritel lainnya.
b. Membeli barang dalam jumlah sangat hesar sehingga mendapat potongan harga yang spesial. Walaupun sering kali pemasok merasa terpojok dengan dominasi dan posisi tawar dalam transaksi yang demikian kuat.
c. Mengambil margin tidak terlalu besar. Kecanggihan mereka dalam komputerisasi akan meminimalkan stok yang mati sehingga modal yang berputar cukup efektif. Disamping itu mereka juga cukup efektif memanfaatkan space, setiap produk yang masuk dikenakan lissting fee yang cukup mahal ( 2 juta) tidak perduli barang itu laku atau tidak
d. Strategi subsidi silang yaitu menjual item-item tertentu dengan harga murah bila perlu tidak mendapat margin agar menjadi gimmick dan disubsidi dari margin item-item lainnya. Semakin banyak ragam yang dimiliki, semakin fleksibel dalam pengaturan harga. Barang-barang dalam katagori traffic builder seperti elektronik,food sering digunakan peritel untuk menstimulasi shopper datang ke outlet.
Disisi lain yang menarik dicermati adalah di tengah agresivitas pemain asing peritel lokal kelas menengah maupun kecil yang masih bertahan bahkan berkembang.Beberapa diantaranya pemain baru. Mereka antara lain: di Jakarta: Tip Top, di Medan Yaohan Supermarket dan Maju Bersama, di Solo: Sami Luwes, di Semarang: AdA, di Jawa Tengah : Sri Ratu dan Rita dan di Bandung : Yogya Supermarket dan Borma
Sampai level tertentu peritel lokal masih akan tetap mampu bertahan asalkan tetap fokus pada keunggulannya.







